Selasa, Juli 02, 2013

PEJUANG VETERAN INDONESIA


By faizsvans ; july, 02 2012
Setiap tahun persisnya 10 November, diperingati sebagai Hari Pahlawan. Seperti biasa, diperingati dengan melaksanakan upacara bendera. Kalau dilihat dari jajaran pejabat yang hadir, rata-rata mereka datang dengan pakaian mentereng. seragam jas, berdasi dengan bahan kain berkualitas. Kendaraan yang ditumpangi juga tergolong mewah. Namun, kondisi itu bisa dibilang berbanding terbalik dengan kondisi para veteran yang notabene pejuang kemerdekaan. Mereka datang ke lokasi upacara dengan sepeda dayung. Ada juga diantar keluarga. Bahkan yang memperihatinkan, datang dengan naik angkutan umum. Kebanggaan mereka hanya satu, dari seragam yang dikenakan.
Kondisi veteran datang ke lokasi upacara, mencerminkan bagaimana kondisi ekonomi keluarga mereka. Hanya segelintir veteran yang hidup berkecukupan. Sebagian besar masuk golongan ekonomi menengah ke bawah.  Dahulu ketika bumi pertiwi ini bergolak, mereka ikhlas meninggalkan anak isteri dan keluarga, bertempur menggunakan senjata yang ada. Mereka adalah para veteran perang yang berjuang demi kemerdekaan. Karenanya, sangat lah layak apabila dianugerahi gelar kehormatan sebagai warga negara istimewa.

Kisah salah seorang pejuang veteran
Ilyas Karim, seorang veteran perang kemerdekaan dan juga saksi pengibaran bendera pusaka saat 17 Agustus 1945, kini hidupnya jauh dari kesejahteraan. Ia tinggal dilahan pinjaman milik PT.KAI, di perkampungan padat pinggiran rel kereta Jabodetabek dikawasan Kalibata yang sewaktu-waktu bisa digusur. Rumah pinjamannya itu berukuran 10×7 meter bercat biru kusam. Semula ia tinggal di Asrama Siliwangi, tahun 1982 dirinya diusir tanpa uang pengganti, lokasi tersebut kini berdiri kantor Kemenkeu.
Dirinya kini mengalami kesulitan bergerak,  matanya harus diselotip agar tak terpejam. Hal ini karena dirinya mengalami penyakit stroke diusia 84 tahun, selain itu pula penyakit jantungnya pernah kolaps saat penggusuran 1982.
Sejak 1996 Ilyas menjabat ketua Pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia (Yapsi). Sebagian besar karirnya dihabiskan di Divisi Siliwangi. Beberapa tugas seperti penumpasan DI/TII di Jawa Barat dan Aceh, penumpasan PRRI di Pekanbaru, dan operasi Seroja di Timor Timur. Pengalaman dalam pasukan perdamaian PBB juga beberapa kali dijalaninya. Yaitu di Kongo, Vietnam, dan Lebanon. Pada 1980 Ilyas pensiun dari dinas militer.
Kini pendapatannya hanya bersumber dari uang pensiunan TNI AD golongan A, dengan pendapatan Rp.1.500.000 perbulan atau Rp750.000 perkapita,  ini berarti untuk memenuhi makanan saja tidak memenuhi, sedangkan kesehatan Ilyas Karim terus memburuk, uangnya terkadang banyak dipakai untuk mengurusi kesehatannya. Ia hidup bersama dengan istrinya yang sama-sama telah lanjut usia, meskipun seharusnya ia berhak mendapat tambahan tunjangan 500 ribu sebagai veteran, tunjangan tersebut tidak dapat diambil karena terbentur peraturan yang ada.

Tunjangan Cacat Cuma Rp 22 Ribu Tiap Bulannya                                                
Keberanian para pahlawan di medan tempur harus dibayar mahal. Dana pensiun yang dite­ri­ma para veteranpun hanya cukup hidup pas-pasan. Itu pun sering kurang. Salah satu yang sedang diperjuangkannya yakni  me­nuntut kenaikan tunjangan cacat. Menurutnya, tunjangan cacat para pejuang saat ini dihargai de­ngan nominal yang kecil. Ti­dak sebanding dengan kerugian yang dialaminya akibat cacat. Untuk cacat sam­pai hilangnya organ tubuh se­per­ti buntung, veteran mendapat tunjangan sebesar Rp 55 ribu per bulan. Tapi kalau cacatnya ti­dak sampai menghilangkan anggota tubuh, cuma dapat Rp 22 ribu per bulan.

Organisasi Perjuangan
Organisasi perjuangan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) merupakan organisasi yang diresmikan oleh Presiden Soekarno, pada 2 April 1957, dengan dikeluarkannya Surat KepPres RI No.103 Tahun 1957. Kemudian organisasi ini melakukan berbagai konsolidasi untuk menghimpun para Veteran Republik Indonesia, yang menurut Undang-undang No. 7 Tahun 1967 menyatakan, bahwa negara perlu memberikan penghargaan kepada mereka yang telah menyumbangkan tenaganya secara aktif atas dasar sukarela dalam ikatan kesatuan bersenjata, baik resmi maupun kelaskaran, untuk memperjuangkan, membela dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal lainnya yang termuat dalam Undang-undang tersebut menyatakan bahwa, Veteran Republik Indonesia adalah Warga Negara Republik Indonesia yang ikut secara aktif dalam suatu peperangan membela kemerdekaan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia menghadapi negara lain yang timbul di masa yang akan datang, dan juga mereka yang ikut dalam masa revolusi fisik antara 17 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949, kemudian ikut aktif dalam perjuangan pembebasan Irian Barat atau Trikora sejak 10 Desember 1961 sampai dengan 1 Mei 1963, dan yang ikut melakukan tugas Dwikora langsung secara aktif dalam operasi-operasi/pertempuran dalam kesatuan-kesatuan bersenjata.

Udara Segar
DPR RI telah menyetujui  RUU Veteran dan mengesahkannya menjadi UU Veteran. UU yang ditandatangani presiden tersebut, kemudian juga diumumkan pada parade serta defile Peringatan Hari TNI ke-67 di Halim Perdana Kusuma.
Dalam hal isi pasal, UU Veteran RI menetapkan kategorisasi dari veteran, yakni Veteran Pejuang Kemerdekaan, Veteran Pejuang Mempertahankan Kemerdekaan, Veteran Perdamaian dan Veteran Anumerta, Janda serta Anak Veteran, yang masing-masing memiliki hak tunjangan kehormatan dan juga pemakaman di Taman Makam Pahlawan, kecuali Veteran Perdamaian yang tidak memiliki tunjangan kehormatan.
Sedangkan bentuk riil dari apresiasi dan penghargaan kepada veteran, direalisasikannya hasil kerja sama antara Kementerian Pertahanan dengan Kementerian Perumahan Rakyat, berupa program renovasi 1.300 rumah veteran di 13 Kodam, dengan penyediaan dana sebesar Rp 11 juta bagi yang ingin membedah rumah dan Rp 65 juta untuk pembuatan satu rumah baru (bagi veteran yang belum memiliki rumah).
Menurut sebagian orang saat ini definisi VETERAN adalah tentara bersenjata yang berjuang dan berperang pada saat jaman penjajahan. Definisi itu masih belum benar, kurir, tukang kirim surat, petugas dapur umum, petugas kesehatan, caraka, penjaga kampung pejuang juga termasuk dalam lingkup veteran kemerdekaan. Mereka hidup dibawah ambang kemiskinan, benar mereka mendapat tunjangan dana setiap awal bulan, tapi itu tidaklah cukup untuk biaya hidup beliau dan keluarganya.
Sedangkan dulu hanya demi "menancapkan" bendera merah putih saja mereka rela untuk bertumpah darah!
Seorang veteran yang tidak lebih adalah seorang tua renta dan tidak pernah menuntut apa-apa selain hidup tenang di sisa hayatnya


Referensi :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar